hostgator coupons

Friday, November 25, 2011

Daya Tarik Semiotika


Kalau mau jujur, sedikit saja ancangan/teori/metode atau disiplin ilmiah yang menarik bagi banyak kalangan. Ambil contoh psikologi; tentu saja, psikologi menarik bagi mereka yang belajar psikologi atau disiplinnya bersinggungan langsung dengan ilmu itu. Namun, psikologi tetap saja sesuatu yang tidak terlalu menarik bagi, misalnya, mereka yang belajar biologi. Atau ilmu sastra; ilmu ini hanya menarik bagi pembelajar ilmu sastra. Bagi pembelajar antropologi, ilmu sastra sesuatu yang barangkali membosankan. Dalam hal ini, peribahasa “rumput di halaman tetangga lebih hijau” tidak berlaku.

Di sinilah semiotika unggul. Sebab semiotika menarik bagi semua disiplin ilmu. Bagaimana mungkin? Setidak-tidaknya ada dua hal yang menyebabkan semiotika menarik bagi siapapun. Pertama, faktanya adalah telah terbukti semiotika memiliki wilayah kajian aplikatif yang mencakup semua disiplin. Mudah-mudahan seluruh semiotika terapan itu akan saya tuliskan dalam salah satu artikel di blog ini. Setakat ini cukuplah kiranya disebutkan beberapa, antara lain biologi, arsitektur, kedokteran, sosiologi, linguistik, ilmu sastra, antropologi, psikologi, psikoanalisis, kajian media, komunikasi.

Kedua, hakikat semiotika sebagai ilmu yang menelaah produksi dan interpretasi tanda membuatnya sudah menarik sejak awal. Hakikat itu membawa semiotika pada pemahaman bahwa sesuatu yang disebut realitas itu tidak lain dari representasi. Artinya, realitas selalu merupakan versi seseorang atau suatu lembaga mengenai perkara yang tersaji sebagai realitas itu. Pada gilirannya, bisa kita pahami bila semiotika mengatakan bahwa apa yang dianggap realitas bagi seseorang belum tentu demikian bagi orang lain.

Dengan kata lain, semiotika menyadarkan kita bahwa tanda yang dipakai untuk merepresentasi sesuatu senantiasa rentan terhadap manipulasi dan rekayasa. Contoh paling gampang dan kasar ialah iklan. Bila obat X diiklankan sanggup mengobati berbagai jenis penyakit, hal itu hanya suatu ikhtiar representasi, belum menjadi kenyataan sejati. Iklan itu bisa bohong belaka sebagaimana didefinisikan oleh Umberto Eco mengenai hakikat tanda.

Dalam contoh tadi saya memakai kata “kasar”. Maksudnya, iklan semacam itu sangat mudah diblejeti kebohongannya (jika memang begitu). Celakanya, sangat banyak produksi tanda (alias representasi) yang secara sangat halus bisa mengecoh. Tak terbilang iklan televisi atau cetak yang tidak menyebutkan sama sekali kehebatan produknya, tetapi hanya menyajikan gambar dan/atau tulisan yang memikat, lucu, dan logis. Justru dengan daya pikat itu, kelucuan itu, iklan tersebut sanggup menjerat konsumen untuk memiliki sikap yang sejalan dengan maksud produsen. Bujuk rayu halus seperti itu jauh lebih mujarab ketimbang iklan yang jelas-jelasan.

Begitulah, dengan berbekal semiotika kita bisa “melawan” representasi apapun, menguraikannya hingga rinci, untuk menguasai tanda alih-alih dikuasai tanda.

(Artikel pindahan dari blog saya pengantar-semiotika.blogspot.com)

Apakah Semiotika?


Singkat kata, semiotika itu ilmu yang mempelajari tanda.

Orang Indonesia mestinya suka semiotika karena budaya kita sangat sering menggunakan tanda. Kalau mimpi gigi tanggal, itu ditafsirkan akan ada keluarga wafat. Gigi yang tanggal itu dianggap tanda kematian. Banyak peristiwa yang oleh orang Indonesia diberi tafsiran sehingga peristiwa itu menjadi tanda; suara burung hantu di malam hari, rasa gatal di tangan, atau mata yang berdenyut dianggap tanda dengan makna tertentu. Malahan penggemar togel menggunakan juga tanda untuk menebak nomor yang bakal keluar (mereka bahkan punya buku primbon mimpi lengkap dengan artinya).

Tanda memang ada di mana-mana. Dalam mimpi ada tanda (paling tidak begitu kata Freud). Begitu bangun tidur kita sudah ketemu tanda (jam dinding, kokok ayam, air liur yang nempel di bantal, belek, seprei yang kusut, dentingan dari dapur). Setelah mandi kembali kita ketemu tanda (celana, baju, sepatu, pena, buku, koran, dering telepon, berita teve/radio). Di tempat kerja juga banyak sekali tanda (debu di meja, sejawat yang datang dengan motor alih-alih mobil yang biasa ia kendarai, atasan yang belum juga senyum, kopi yang terlalu manis, seorang rekan kerja tidak ngantor). Saat istirahat siang, lagi-lagi kita menemukan tanda (menu kesenangan Anda tidak ada, pengamen yang kelewat banyak, rambu-rambu lampu merah tidak nyala, sirine rombongan pejabat, seorang gadis cantik sibuk menceti tombol komunikator, pasangan Anda kirim sms mengingatkan acara nanti malam). Pokoknya, kita tidak bisa lepas dari tanda.

Sebab tanda adalah segala sesuatu yang bagi seseorang berarti sesuatu yang lain. Ambil contoh sms pasangan Anda yang mengingatkan bahwa nanti malam Anda berdua janjian nonton: "Bang, ntar malem jgn lupa ya". Sms itu bisa jadi tanda bahwa Anda mungkin lupa dan peringatan itu bukan tanpa alasan. Barangkali Anda pelupa atau pernah lupa janji atau filmnya sangat menarik bagi pasangan Anda.

Pengertian tanda seperti itu dikatakan oleh Charles Sanders Peirce, satu dari dua pelopor semiotika modern. Selengkapnya ia mengatakan tanda adalah sesuatu yang bagi seseorang merujuk pada sesuatu yang lain berdasarkan landasan tertentu.

Yang lebih menarik ialah definisi tanda menurut Umberto Eco. Menurut Eco tanda adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk berbohong. Definisi yang menarik, kan? Andaikan pacar Anda berkata, "Aku sayang banget sama kamu." Kalimat itu mungkin ungkapan hati yang jujur, tapi bisa juga itu cuma rayuan gombal alias bo'ong besar. Sebagai sebuah tanda, kalimat tadi bisa dipakai untuk berbohong.

Hampir semua tanda memang dapat dipakai untuk menyembunyikan kebenaran. Hampir semua? Ya, karena ada sejenis tanda yang rasanya mustahil direkayasa. Tanda itu disebut simptom, yaitu gejala biologis yang ditampakkan tubuh manusia. Bercak merah dan berak-berak bisa jadi simptom demam berdarah.

Karena kita senantiasa hidup dalam lautan tanda, memahami seluk-beluk tanda sangat bermanfaat. Dan karena tanda ada di mana-mana, apapun profesi yang anda geluti, pemahaman tentang semiotika bakal membantu Anda menguakkan tabir tanda. Ya, dengan semiotika Anda bisa menyibakkan makna sebenarnya yang terletak di balik tanda. Paling tidak, Anda tahu sekarang bahwa setiap saat Anda bisa dibohongi dan ditipu. Simaklah baik-baik tanda yang sengaja atau tidak sengaja dibuat orang berinteaksi dengan Anda. Paling tidak itulah manfaat belajar semiotika bagi kehidupan sehari-hari kita.

(Artikel ini saya pindahkan dari blog lain yang saya miliki, yaitu pengantar-semiotika.blogspot.com.)

Friday, April 15, 2011

Monday, February 16, 2009

Apakah Tanda? (3)

Lebih Jauh Mengenai Definisi Tanda C.S. Peirce


Artikel sebelum ini menjelaskan pengertian tanda menurut Peirce. Sekarang saya lanjutkan, ya. Jadi artikel yang Anda baca ini masih mengajak Anda memahami definisi tanda Peirce. Okey?

Sekarang Anda bisa menukik lebih jauh. Untuk itu silakan perhatikan definisi tanda Peirce dalam bentuk lengkapnya berikut ini.

A sign, or representamen, is something which stands to somebody for something in some respect or capacity. It addresses somebody, that is, creates in the mind of that person an equivalent sign, or perhaps a more developed sign. That sign which it creates I call the interpretant of the first sign. The sign stands for something, its object. It stands for that object, not in all respects, but in reference to a sort of idea.


(Suatu tanda, atau representamen, adalah sesuatu yang bagi seseorang mewakili sesuatu [yang lain] dalam kaitan atau kapasitas tertentu. Tanda mengarah kepada seseorang, yakni menciptakan dalam pikiran orang itu suatu tanda lain yang setara, atau bisa juga suatu tanda yang lebih terkembang. Tanda yang tercipta itu saya sebut interpretan dari tanda yang pertama. Suatu tanda [yang pertama] mewakili sesuatu, yaitu objek-nya. Tanda [yang pertama] mewakili objeknya tidak dalam sembarang kaitan, tetapi dalam kaitan dengan suatu gagasan tertentu.)


Kalau Anda cermati, ada tiga komponen dalam definisi tanda Peirce, yaitu representamen, interpretan, dan objek. Karena itu, definisi tanda Peirce disebut triadik—bersisi tiga. Perhatikan gambar segitiga tanda Peirce ini.



Segitiga itu kita sebut segitiga tanda karena terdiri atas tiga komponen yang membentuk suatu tanda. Jadi, tanda terjadi dari tiga komponen itu: representamen, interpretan, dan objek (Nöth, 1995:42).

Ayo, kita periksa satu demi satu tiga komponen atau unsur tanda Peirce ini.

Representamen


Sesuatu dapat disebut representamen jika memenuhi dua syarat, yaitu

(1) bisa dipersepsi, baik dengan pancaindera maupun dengan pikiran/ perasaan; dan
(2) berfungsi sebagai tanda.

Jadi, representamen bisa apa saja, asalkan berfungsi sebagai tanda; artinya, mewakili sesuatu yang lain.

Oya, sekadar catatan tambahan. Nanti akan dibahas definisi tanda Saussure, tapi yang sekarang perlu Anda ketahui ialah representamen Peirce identik dengan penanda Saussure. Inget, ya ....

Objek


Objek ialah komponen yang diwakili tanda; objek ialah “sesuatu yang lain” (ingat artikel tentang pengertian tanda Eco?).

Komponen ini bisa berupa materi yang tertangkap pancaindera, bisa juga bersifat mental atau imajiner.

Interpretan


Interpretan adalah arti. Beberapa istilah lain yang acapkali digunakan Peirce untuk menyebut interpretan ialah “significance”, “signification”, dan “interpretation”.

Peirce mengatakan bahwa interpretan juga merupakan tanda. Mengenai hal ini akan dibahas pada artikel berikutnya. Tunggu tanggal maennya. :-)

Nah, segitu saja dulu ya.

Sebagai tugas, coba kalian beri contoh tanda untuk definisi Peirce. Caranya, gunakan segitiga itu ya. Misalnya, representamennya apa, objeknya apa, dan interpretannya apa. Paham kan?

Wednesday, February 11, 2009

Apakah Tanda? (2)

Pada posting sebelum ini kita sudah membahas pengertian tanda menurut Umberto Eco. Sudah juga kita bicarakan contoh-contohnya. Simpulan yang kita tarik ialah sesuatu yang kita sebut tanda itu bisa apa saja. Segala sesuatu dapat menjadi tanda karena segala sesuatu dapat digunakan untuk berbohong, bukan?

Nah, sekaranglah saatnya kita membahas pengertian tanda secara formal. Menurut Charles Sanders Peirce, tanda adalah sesuatu yang bagi seseorang mewakili sesuatu yang lain dalam suatu kaitan tertentu. Rada rumit memang, tapi begitulah. Mari kita uraikan definisi Peirce itu ke dalam bagian-bagiannya.

Charles Sanders Peirce
Definisi tersebut bisa kita uraikan ke dalam tiga hal yang membentuk sebuah tanda sebagai berikut.

  1. Sesuatu”: Ingat kembali pengertian tanda dari Eco. Sesuatu di sini adalah segala sesuatu dalam pengertian Eco; “sesuatu” itu boleh apa saja.
  2. Sesuatu yang lain”: Yang dimaksud ialah pengertian atau arti yang muncul dalam pikiran kita sewaktu kita berhadapan dengan “sesuatu” yang pertama.
  3. Kaitan tertentu”: Maksudnya ialah ada hubungan antara “sesuatu” dengan “sesuatu yang lain”.

Tiga hal itu lebih jelas kalau kita jabarkan dengan contoh.

Contoh I

Misalkan suatu pagi Anda melihat di teras rumah tetangga tergeletak koran. Ini sebuah tanda bagi Anda; inilah sesuatu itu. Nah, kalau Anda mengartikan fakta itu sebagai ‘tetangga Anda berlangganan koran’, Anda mengaitkan sesuatu tersebut (koran tergelatk di teras tetangga) dengan sesuatu yang lain (tetanggaku berlangganan koran).

Contoh II

Satu contoh lagi, ya. Suatu hari Anda melihat Pak Imam berdiri di tengah pintu Ruang C2. Matanya terarah ke dalam kelas itu. Tidak terdengar suara dari dalamnya. Ini sesuatu. Mewakili apa sesuatu itu? Mungkin Anda mengaitkannya dengan ‘beliau sedang melaksanakan ujian akhir semester’. Inilah sesuatu yang lain itu.

Maka, setiap kali Anda menghubungkan sesuatu dengan sesuatu yang lain dalam suatu kaitan tertentu, Anda menciptakan tanda.

Penting Anda perhatikan unsur “kaitan tertentu” dalam definisi tersebut. Unsur tersebut menekankan bahwa hubungan sesuatu dan sesuatu yang lain harus dalam suatu kaitan; harus ada dasarnya. Koran yang tergeletak berkaitan dengan ‘tetanggaku berlangganan koran’ karena kedua-duanya Anda hubungkan ke dalam suatu kaitan tertentu, sedangkan pengaitannya didasarkan pada kelaziman bahwa loper koran biasanya melemparkan koran di teras pelanggannya.

Demikianlah definisi yang kita dapatkan dari Peirce. Tidak sulit, kan?

Supaya kalian bertambah paham, cobalah temukan dasar yang melandasi tanda dalam Contoh II. Artinya, Anda mesti menjawab pertanyaan: Apakah yang menjadi dasar untuk mengatakan bahwa fakta tentang Pak Imam itu berhubungan dengan ‘beliau sedang melaksanakan UAS?

Sampai ketemu di posting selanjutnya, yang masih membicarakan definisi tanda Peirce.
[1.1] Apakah Tanda? (2)

Sunday, February 8, 2009

Apakah Tanda? (1)

Seperti janji saya pada posting [1], sekarang saatnya kita bahas pengertian tanda. Kita akan menjawab pertanyaan yang menjadi judul posting ini, yaitu apakah tanda? Bahasan kita mengenai pokok ini terbagi ke dalam beberapa posting. Itu sebabnya digunakan penomoran di akhir judul posting ini dan posting selanjutnya yang merupakan lanjutannya. Let's get started!

Masih ingat video yang Anda tonton? Di situ dipaparkan pengertian tanda menurut teori tanda Ferdinand de Saussure dan Charles Sanders Peirce. Itulah dua pelopor semiotika modern. Kalian harus akrab dengan dua nama itu. Nah, nanti kita bahas pengertian tanda menurut Saussure dan Peirce itu. Namun, sebelumnya saya ingin mengajak kalian berkenalan dengan tokoh besar lain dalam studi tanda, yaitu Umberto Eco.

Umberto Eco
Umberto Eco--saya biasa menyebutnya Eco saja (bukan Pak Eko, lho)--memiliki definisi sangat menarik mengenai tanda. Saya berharap kalian lebih gampang memahami apa itu tanda dengan bertolak dari definisi tanda Eco. Menurut beliau tanda adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk berbohong. Menarik, kan? Mari kita dalami maksudnya.

Maksud Eco, sebenarnya, sederhana. Apa yang kita gunakan untuk berbohong? Biasanya kita berbohong menggunakan bahasa. Maka, bahasa tergolong tanda--tapi tanda bukan hanya bahasa. lho. Sebagai contoh, kalau saya berkata, "Wandi ganteng banget seperti Brad Pitt", jelas itu bohong. Kalimat saya itu merupakan tanda. Unsur bahasa yang bisa digunakan untuk berbohong bukan hanya kalimat. Semua unsur bahasa bisa digunakan untuk menyampaikan kebohongan.

Yang bisa digunakan untuk berbohong bukan pula cuma bahasa; benda-benda pun bisa, kok. Mobil, misalnya. Kita tahu harga BMW muaaahal banget; hanya orang yang banyak uang sanggup membelinya. Kalau suatu hari kita melihat seseorang mengendarai BMW, segera kita menganggapnya kaya. Padahal belum tentu, kan? Bisa saja dia cuma pinjam dari orang tuanya. Lebih parah lagi, bisa saja montir mobil. Jadi, BMW itu dapat menjadi tanda.

Satu contoh lagi, kali ini iklan. Tiap hari kita menyaksikan iklan ditayangkan di mana-mana. Apalagi di masa kampanye seperti sekarang (kan bentar lagi pemilu legislatif kemudian pemilu presiden). Coba kalian perhatikan gambar-gambar pada iklan calon wakil rakyat yang bertebaran di sepanjang jalan itu. Hampir semua gambar calon wakil kita itu mengenakan peci. Kira-kira mengapakah mereka bergambar sambil pakai peci? Tidak lain untuk mengisyaratkan bahwa mereka umat beragama yang baik, taat beribadah, saleh. Bener, kan? Nyatanya, mungkin berlawanan dengan itu. Dalam hal ini, peci tadi sudah digunakan sebagai tanda karena bisa dipakai berbohong.

Iklan di televisi pun begitu. Pernah lihat pariwara sebuah rokok? Dalam iklan rokok yang saya maksud, tokoh iklan ditampilkan sebagai lelaki yang macho, tampan, dan berani. Yang hendak dikatakan tukang iklannya ialah rokok tersebut dihisap oleh pria seperti itu: macho, tampan, dan berani. Atau, kalau Anda, yang pria, mau dianggap macho, tampan, dan berani, hisaplah rokok itu. Itu kan bohong aja. Iklan juga tanda.

Dari contoh dan penjelasan itu, jelas terlihat bahwa apapun bisa digunakan untuk berbohong: kata-kata, benda, perbuatan, dst., dst. Memang, semua yang ada di dunia ini--konkret dan abstrak--dapat kita gunakan untuk berbohong. Dengan begitu, semua bisa jadi tanda.

Saturday, February 7, 2009

SEMIOTIKA & TANDA

Rambu-rambu lalu-lintas juga tanda.
Barangkali pertanyaan awal yang ingin kalian ajukan adalah "apa sih semiotika itu?". Itu mudah jawabannya. Semiotika adalah ilmu yang mempelajari tanda. Gampang, kan? Jadi, objek kajian semiotika itu tanda. Sekali lagi, ya: tanda.

Nah, Anda bakal belajar tentang semiotika. Artinya, belajar tentang tanda dan seluk-beluknya. Karenanya, kalian perlu paham apa itu "tanda". Akan saya jelaskan apa itu tanda, tapi terlebih dulu simaklah video berikut ini; klik link ini: http://www.youtube.com/watch?v=rEgxTKUP_WI.


Sudah lihat videonya? Kalau belum, buruan klik link-nya. Jangan sampai tidak karena itu penting.

Nah, kalau sudah, mungkin Anda tidak sepenuhnya paham isi video itu. Tidak apa. Jangan kecil hati. Nanti juga paham, kok. Sebab sebentar lagi saya akan menjelaskannya satu per satu, sedikit demi sedikit. Hanya saja tidak di posting ini karena posting-nya bisa kelewat panjang sehingga bisa capek deh .... :-)

Yang perlu diingat, nanti setelah topik tentang tanda ini dipelajari, kalian harus tonton lagi video itu, ya. Jangan lupa.

Okey, sampai ketemu di posting berikutnya.

(Btw, urutan posting ialah dari bagian bawah ke bagian atas halaman.)